ages go blog......

Blog Entry7K1000 hard driveAug 21, '07 10:28 AM
for everyone

Being first to the terabyte mark gives Hitachi bragging rights, and more importantly, the ability to offer single-drive storage capacity 33% greater than that of its competitors. Hitachi isn’t banking on capacity alone, though. The 7K1000 is also outfitted with a whopping 32MB of cache—double what you get with other 3.5″ hard drives. Couple that extra cache with 200GB platters that have the highest areal density of any drive on the market, and the 7K1000’s performance could impress as much as its capacity.


Blog EntryBungkus McDonald's Aug 21, '07 10:06 AM
for everyone

Pertanyaan besarnya adalah: Advertising untuk anak-anak, benar atau salahkah? Bagi anak-anak, kemasan pembungkus McDonald’s adalah segalanya. The Chicago Sun Times baru-baru ini meliput, Are your kids McDonald’s brainwashed?

Sebuah artikel yang ditulis dengan mengikuti riset dari seorang guru besar pedriatic di Standford University, DR Tom N. Robinson. Studinya dilakukan dengan melibatkan 63 anak-anak usia 3-5 tahun dan selera makan mereka terhadap makanan produksi McDonald’s.

Pada setiap makanan buatan McDonald’s tersebut dibungkus dengan kemasan yang memiliki brand McDonald’s dan kemasan biasa tanpa brand McDonald’s. Percaya ga, setiap kali anak-anak itu memakan makanan yang menggunakan bungkus kemasan tanpa brand McDonald’s, mereka selalu kehilangan selera.


Blog EntryToket Ada TigaApr 27, '07 12:01 PM
for everyone
"Djikaloe ramboet iaitoe mahkota prampoewan,
mangka pajoedara iaitoe satoe ratna moetoe manikam boewat ianjah..."
( Ki Jongen Van Dongo )
 
 

Sabermoela dari itoe toniil van Amerika Sjarikat poenja Nagri iang berdjoeloek Total Recall, mangka ik soeda mahfoem djikaloe itoe oknuum iang bikin toniil soeda bikin satoe machloek prampoewan latjoer di itoe planit Mars soeda poenja pajoedara tiga bidji poen ! Ja, tiga bidji, opo hora ngedab2 i itoe ? Ik brani kassie tarohan ka koweorang samoewa bahwasanjah itoe iang poenja kerdja'an mistih satoe oknuum laki2 poen. Dalang van toniil iang djelas kassie bikin itoe satoe gagasan bahoewa satoe arie ntaran, kita kaoem ana tjoetjoe Adam inih soeda boeka satoe colonie van planit Mars.

...inih bakalan mendjahadie satoe phenomena ataopoen Revolutie dalem doenija seksuiil...

Mangka soeda ghalib djikaloe itoe satoe colonie baroe iang mistih ada iaitoe, satoe tempat boewat niaga alijas passer, satoe tempat boewat tinggal iaitoe paroemahan en satoe tempat boewat kassie parboewatan chijanat iaitoe roema bordil poen. Mangka soeda diseboet bahoewa ini satoe profetie iang tertoewa di ini doenija. Apaka betoel poen ? Toewaan manah sama toekang boenoe orang ? Habil pan iang kassie boenoe ianjah poenja sodara sendiri ? Mangka itoe pameo soeda mistih dioebah, satoe profetie iang paling toewa iaitoe toekang boenoeh orang poen. Bapa Adam en Iboe Hawa tijada oesa kita kassie itoeng passal marika tijada laer di ini doenija djahadie soeda boekan pandoedoek aseli ini doenija.

Koembali van Toket binti pajoedara tadih poen, mangka soeda ditjritaken itoe satoe prampoewan latjoer iang kassie godah sama kitaorang poenja djagowan, Arnold Schwarznegger boewat soeka demen samah ianjah. Mangka soeda diboekanjah ianjah poenja pajoedara poen...djreeeeeng ! Alamakdjaaaang ! Itoe ada tiga bidjie iang nongol berhamboeran saola2 mahoe toempah roewah poen ! Djabang bajik ! Tiga bidji bole lontjat dengen semena2njah, tijada kassie kasempatan samah kitaorang boewat bernapas barang sesaat poen !

Mangka ada kalebihannjah djoewa djikaloe satoe prampoewan empoenja toket binti pajoedara sedjoemla tiga bidji poen. Tijada lagih satoe keloehan van kaoem lakih mengenai koerangnjah itoe persedijaan pajoedara wektoe bertjintaan samah marika orang poenja binih !

Bijasanjah djikaloe sedeng itoe dalem wektoe bertjinta'an mangka satoe laki2 aken kassie kebingoengan mahoe tjioem atoe pegang pajoedara iang kanan ataoe iang kiri poen ?

Satoe keadaan dilematiek iang soeda lama terdjadih ! Bijasanjah itoe oknuum lakih2 aken tjioem gonta-ganti, kanan...kiri...kanan...remes kanan...tjioem kiri...remes kiri...tjioem kanan....

Padahal djikaloe kitaorang toeroetin apa iang henda kitaorang pinginin mangka setidanjah maimang djoemla itoe toket mistih minimaal tiga bidjie poen. Passal djikaloe tangan kanan soeda kassie remes itoe pajoedara sebla kanan en iang kiri djoewa kassie remes iang sebla kiri...sedeng kitaorang poenja moeloet paas boewat kassie kenjot toket iang katigah di tenga poen....manteb!

Moengkinka itoe hal-echwal bole terdjadi en bilamana itoe aken terdjadih ? Soeda temtoe sangat moengkien poen. Koweorang tahoe bahoewa kaoem tjerdiek pande soeda brasil kassie petain itoe kode genetiek manoesija --iang poenja kamoengkienan combinatie berlaksa2 taoen -- kemaren arie inih. Passal soeda madjoe nian itoe doenija komputer elektriek, pemetaan itoe bole berdjalan lebi tjepet daripada iang dikassie kira seblonjah. En apa itoe manpa'at van itoe pemetaan genome ?

Soeda temtoe kitaorang bole djahadie laksana djahadie Toehan itoe sendiri. Bole kassie rantjang satoe manoesia sakehendak itoe manoesija sendiri, iang tampan, elok tijada perna sakiet, tijada perna toewa en laen hal. Apalagih tjoeman bikin satoe prampoewan iang poenja toket tiga bidji poen, gampang toelen itoe...! Mangka djikaloe itoe masa soeda mendjelang, oknuum2 matjem sinjo mesoem, boeng pitiek, boeng mesoem van toemasek soeda mistih soeka aken itoe hal. Sedangken ik sendiri...ehm...matjem manah ja...eh...ah...uuh....tjoeba pigimanah dengen koweorang poen ?

Hahahahahahah.....

Toketjang-toketjang...aya toket segede batjang...!!!


Blog EntryKisah Mbok JahApr 27, '07 8:49 AM
for everyone

Di depan kedai kopi bernama Kedai Subuh Mbok Jah duduk seorang nenek di dipan rotan, ia memakai jarik bermotif batik dan kebaya kain ungu polos. Rambut berubannya digelung. Ia tampak lusuh dan kotor. Raut wajahnya memancarkan kesedihan. Matanya menatap kosong lurus ke depan. Bunyi tokek menghantami dinding yang terbuat dari kulit bambu mengiringi sepi.

 

Kemudian seorang siswa SMP melewati kedai. Ia adalah Andhira, salah satu anggota FIDE (Federasi Catur Dunia). Ia kelelahan setelah berjalan sejauh 2 KM karena kalah dalam game yang ia buat bersama teman-teman satu sekolahnya. Rona wajahnya menyerupai tomat, bajunya basah bermandikan peluh. Saat itu ia merasa beruntung telah menemukan tempat untuk melepas lelah. Andhira menghampiri nenek yang sedang termangu itu.

 

“Maaf, Nek. Boleh minta segelas air?” Kata Andhira seusai memberi salam yang tak dijawab.

 

Nenek-nenek keriput itu hanya diam. Ia tak bergeming, larut dalam hening.

 

“Nenek, tolong secangkir kopinya.”

 

Ulang Andhira dengan volume suara yang dikeraskan karena, dikiranya sang Nenek pasti sudah berkurang pendengarannya. Nenek itu akhirnya menoleh. Tapi raut wajahnya menjadi lebih muram. Ia menatap sedih dan layu seakan berkata ‘tidak-kah-engkau-tahu-lara-di-hatiku-anak-muda’. Kemudian ia memberi isyarat melalui mata tuanya untuk ikut melihat apa yang tengah nenek renta itu pandangi. Andhira menoleh kebelakang, dan terkejut menemukan papan tua bercat putih yang telah usang tertancap di pintu pagar kayu bertuliskan:

 

“TELAH DIRAMPAS UNTUK NEGARA”

 

Ditolehnya kembali nenek itu, “maaf nek, saya tidak tahu,” ucap Andhira segan “permisi…..”

 

Ia merasa tidak enak dan berniat pergi. Baru satu langkah ia menjejakkan kakinya, sang Nenek langsung terbatuk-batuk hingga terjatuh dari tempat duduk. Tentu saja hal itu membuat Andhira khawatir dan langsung berbalik membantu sang nenek duduk kembali.

 

“Terima kasih, Tuan…” ujar nenek itu masih terbatuk-batuk.

 

Andhira hanya tersenyum.

 

“Tuan, mampir lah ke kedai kumuh ini sejenak. Saya ingin bercerita tentang riwayat kedai ini.” pintanya. Dengan kening yang dikerutkan dan senyum sedikit kecut, Andhira menuruti kehendak nenek itu. Ia pun duduk bersebelahan.

 

“Dulu, ini adalah kedai keluarga Saya, hanya bermodalkan secangkir kopi kami mulai merintisnya.” kata sang nenek seraya menatap kedua bola mata Andhira. Ia terdiam sejenak, kemudian ia melanjutkan nostalgianya.

 

 

 

 

-FLASH BACK-

 

 

Sebuah berita tentang kemasyuran Kopi Glegek yang diproduksi oleh Kedai Subuh Mbok Jah, dimuat di Tabloid Sedap Enak, salah satu tabloid kuliner. Sekitar empat bulan pertama sejak kedai itu di buka, mereka sanggup meraup keuntungan sebesar 30 juta perbulan. Dan kedai itu menjadi lebih menonjol dibandingkan dengan warung atau kedai-kedai sebelah. Hal itu sempat membuat Kedai Subuh Mbok Jah memiliki isu negatif. Ada yang mengatakan bahwa Kedai Subuh Mbok Jah memakai pelet laris manis untuk menarik konsumen. Dan ada juga kabar yang beredar di kalangan para petinggi perusahaan bahwa kedai tersebut tak ada bedanya dengan warung remang-remang.

 

Bahkan parahnya ada sekelompok orang yang percaya bahwa pemilik kedai membubuhkan ganja pada Kopi Glegeknya hingga, pihak kepolisian harus turun tangan dan sempat membuat Kedai Subuh Mbok Jah menurun pendapatannya. Tapi, desas-desus itu hanyalah sebuah bualan belaka. Bulan demi bulan berganti dengan tahun.

 

Kedai Subuh Mbok Jah makin mengembang. Namanya makin gemilang. Selalu terpampang di jalanan. Kadang ia muncul di iklan. Kadang ia diberitakan. Kebahagiaan pun kian melengkapi hidup Mbok Jah dan keluarganya. Kini hidupnya enak. Suaminya tak lagi membajak sawah orang. Kedua putri kembarnya sanggup bersekolah di tempat yang lebih berkualitas. Dan rasa syukurnya ia ungkapkan dengan mencoba berbagi.

 

Namun, kesenangan memang tak pernah abadi. Ngadiman, suami Mbok Jah, terkena batu ginjal. Mbok Jah dan putri-putri ayunya dengan telaten merawat Ngadiman hingga uangnya habis untuk biaya pengobatan. Tapi, penyakit ngadiman bertambah parah dan akhirnya meninggal. Si Bungsu pun menyusul kepergian ayahnya dalam selang waktu kira-kira 2 bulan akibat rasa rindu yang selalu membuatnya menangis. Bersamaan dengan itu Dian, putri sulung dari pasangan Mbok Jah dan Ngadiman, bersengketa dengan isteri pemilik Warung Pecel Lele.

 

“Pelacur! Beraninya kamu merusak rumah tangga orang!” labrak sang Isteri pemilik Warung Pecel Lele. Beragam kata-kata menyakitkan keluar dari lidah wanita itu, menggunakan bahasa Jawa Timuran yang kasar.

 

Ia berkacak pinggang dan memelototkan matanya, seolah bola mata yang kini sedang bergerak-gerak cepat itu, akan menggelinding menghampiri Dian. Wajahnya menunjukkan kemurkaan. Dian menjadi gemetar. Baru kali ini Dian menerima makian. Hati kecilnya ingin melawannya, tapi tertahan oleh tubuh kakunya.

 

“Tapi, bu. Itu tidak benar. Saya tidak…”

 

Dian mencoba membantah tapi kalimatnya terpotong oleh terjangan wanita kurus itu. Jemarinya mencekik leher Dian. Kemudian ia mencakari wajah, tangan, dan dada Dian hingga bajunya robek. Dian mengerang kesakitan. Ia berteriak-teriak minta tolong tapi mulutnya dibekap. Lalu wanita itu berdiri dan menggeret kedua kaki Dian yang terbalut jarik menuju kali. Sengaja ia melewati bebatuan dan kerikil untuk melukai tubuh Dian. Dian meronta dan menangis tapi cengkraman wanita itu lebih kuat. Setibanya di kali, kerahnya ditarik kuat-kuat, dicengkram rahang dagu Dian yang berdarah. Kemudian dihempaskan tubuh mungil itu ke kali. Dan Dian pun tersungkur.

 

“Ini peringatan buatmu, perempuan jalang! Mendingan kamu pergi dari sini! Ajak juga makmu itu! Muak melihat tampang brengsekmu dan mak kamu!” bentak wanita itu setelah ia melarungkan semua cucian Dian hingga hanyut terbawa arus.

 

Dian menangis. Ia tak mengerti mengapa wanita itu tega berbuat hal sekasar ini padanya. Ia pun tak tahu tentang apa yang dikatakan isteri pemilik Warung Pecel Lele. Ia tak sanggup melawan karena badannya telah dilemahkan oleh amarah wanita itu. Akhirnya ia pulang tertatih-tatih dan Mbok Jah hanya mengelus dada seusai mendengar cerita Dian. Mereka hanya sanggup berlindung pada Tuhan dan berharap semoga peristiwa yang menimpa Dian tak lagi berulang.

 

Ternyata keinginan mereka bagai sebuah harapan kosong. Semenjak hari itu beragam serangan terus menerus menghujami kehidupan Mbok Jah dan Dian. Dan puncaknya, Dian menjadi gila. Bila malam tiba, ia tertawa. Bila subuh datang, ia menangis. Dan sikap seperti keterbelakangan mental muncul sepanjang siang. Mbok Jah tak pernah letih mengurus anak gadisnya.

 

Namun, perawan itu tak kunjung sembuh bahkan, ia tak lagi mengeluarkan ekspresi apa pun, Dian membisu sepanjang hari. Hal itu menyebabkan asumsi-asumsi masyarakat bermunculan. Ada yang mengatakan bahwa Dian disantet seseorang agar menjadi gila. Ada juga yang bilang bahwa Dian telah menerima kutukan Tuhan akibat kelakuan tercelanya. Entah yang mana yang benar. Hanya Tuhan yang Maha Mengetahui. Hanya Mbok Jah yang bisa merasakan kepedihan sesungguhnya.

 

 

 

 

-THE END OF FLASH BACK-

 

 

Mbok Jah tua tak lagi sanggup melanjutkan cerita pedihnya. Ia menangis sejadi-jadinya. Andhira berusaha menenangkan Mbok Jah yang sudah renta itu.

 

“Pergi kau! Saya tidak butuh belas kasihan Tuan!” usir nenek-nenek itu, “semua sudah terlambat! Tak lagi tertolong. Kemana kalian saat itu?!” lanjutnya  terisak.

 

Andhira menegang dan bergidik. Walau pun yang dihadapannya hanyalah seorang  wanita tua tapi entah mengapa ia merasa seperti ada aura hitam menyelimuti tempat itu. Aura yang mungkin akan menenggelamkan Andhira dan tak kan membiarkannya hidup. Ia merasa seolah nenek-nenek itu akan berubah menjadi raksasa atau apa lah itu yang bisa meremukkan tulang. Dengan degup jantung yang tak beraturan ia segera berlari meninggalkan tempat itu dan dalam hitungan detik ia telah menghilang dari pandangan sang Nenek.

 

Keesokan paginya mobil Andhira melewati jalan yang sama. Ia melihat reruntuhan bangunan di tepi jalan.

 

“Seperti tempat nenek-nenek yang kemarin” gumamnya.

 

“To, to, tolong berhenti sebentar. Aku mau melihat reruntuhan bangunan itu.” titah Andhira pada Narto, supir keluarga Andhira.

 

Narto segera menepikan Xenia Cokelatnya. Andhira kembali mencermati bangunan yang telah menjadi bangkai. Kerangkanya masih berdiri tegak walau sedikit penyok dan gosong. Dipan tempat duduknya dan nenek itu telah patah. Pintu yang terbuat dari beberapa ikatan sabut kelapa, sudah setengahnya hangus dilahap api, tapi masih menempel pada tiangnya. Beberapa patahan-patahan kayu yang mungkin pernah menjadi kursi, meja, atau lemari kini beberapa telah berubah menjadi arang dan sisanya adalah sarang rayap, berserakan dimana-mana. Papan nama kedai itu hangus dibagian tepi, tergeletak di tanah. Pagar bambunya juga telah rubuh dan terjerat ilalang.

 

“Den, dulu ini adalah kedai kopi yang cukup populer. Tempatnya nyaman dan teduh”terang Narto sopan, “mantan-mantan bos Saya sering berkunjung kemari. Mereka rela mengantri pagi-pagi buta hanya agar bisa minum kopi spesial yang dijual di sini.” lanjutnya lagi.

 

“Kopi Glegek? Itu kan namanya?” tanya Andhira memastikan.

 

“Iya. Kalau boleh tahu Den Andhira pernah dengar dimana?” tanya Narto dengan kedua alis yang sengaja ditautkannya.

 

“Pernah dengar saja dari obrolan orang di jalan” Andhira berdusta, “ada apa?” tanyanya lagi.

 

“Tidak. Hanya setahu Saya, sekitar 7 tahun yang lalu kedai ini pernah dibantai habis-habisan oleh penjaja sekitar sini. Mereka menjarah kedai itu. Mengubur pemilik kedai hidup-hidup. Memperkosa anak gadisnya dan membakarnya bersama dengan kedai mereka. Entah apa masalahnya. Tapi yang jelas pemilik mau pun kedainya dimusuhi oleh para penjaja makanan yang dulu berada di sekitar sini.” Narto menjelaskan secara singkat.

 

“Lalu, aparat setempat masa’ diam saja?” Andhira mulai tertarik.

 

“Tidak tahu, den.” jawab Narto, “Yah, den Dhira. Tak banyak yang tahu soal ini, termasuk saya. Saya hanya mendengar kabarnya melalui surat kabar.” sambungnya lagi.

 

Andhira menjatuhkan punggungnya ke kursi. Tiba-tiba ia merasakan degup jantung yang sama seperti kemarin, ditambah lagi bulu kuduknya berdiri dan tengkuk yang mendingin. Ubun-ubunnya pun seperti sedang mengalirkan listrik ke akar-akar rambut. Otak kanannya mulai bermain, mengeluarkan beragam imajinasi yang mampu membuatnya menciut. Ulu hatinya terasa perih seperti sedang diiris-iris menyebabkan ia memiliki perasaan tak nyaman dan ingin berlari keluar.

 

“Narto, udah yuk! Nanti aku telat, sudah hampir jam 8.” ujar Andhira sedikit gugup.

 

“Iya.” sahut Narto sambil keheranan melihat majikannya berwajah pucat dan tegang.

 

Xenia itu pun mulai bergerak maju. Andhira melihat ke spion mobil, awalnya ia iseng saja ingin melihat mata supirnya. Namun, ia malah melihat nenek-nenek yang ia temui kemarin, berjalan mendekatinya, membawa sepotong papan bercat hijau tua dan kuning dengan warna yang sudah luntur dan pudar, didekap oleh kedua tangan keriputnya, dan terlihat sepotong kata bertuliskan: MBOK JAH. Ia langsung berbalik, tapi tak seorang pun terlihat di jalan raya.

 

 

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help